Untuk Merawat Kewarasan

Kemarin ada seorang adik kelas di perkuliahan meminta izin untuk membagikan salah satu link catatan blog ini.

“Izin share, Mas,” katanya.

“Catatan personal seperti ini buat apa di share?” saya balik bertanya.

“Hahaha, gapapa, Mas. Kali aja ada hikmah yang bisa orang ambil,” jawabnya.

Anak ini memang unik. Di satu sisi, dia terlihat agamis. Namun disisi lain, dia juga luwes dalam pergaulan dan tidak kaku. Terkadang cenderung usil dan muncul juga sisi kenakalan yang tentu masih dalam tahap terkontrol.

Ya sudah, saya mengizinkan.

“Saya memang ada tujuannya menulis. Tapi sebenarnya tidak pernah berekspektasi setinggi itu.” saya menjawab.

Dan memang sebenarnya tujuan saya menulis tidak setinggi itu. Saya tidak pernah merasa kalau tulisan-tulisan yang saya buat bisa diambil hikmah dan manfaatnya oleh orang lain. Lha memang saya siapa kok bisa-bisanya tulisannya bisa diambil hikmahnya? Tidak usah kepedean. Bahkan sejujurnya alasan saya menulis adalah terutama untuk kepentingan diri sendiri. Demi manfaat untuk diri sendiri.

Begini. Menurut saya, setiap manusia memiliki kebutuhan untuk didengarkan. Manusia juga perlu mengutarakan apa yang ia pikirkan. Agar isi kepalanya tidak terasa terlalu penuh dan memberatkan.

Namun di sisi lain, tidak semua manusia memiliki kemampuan untuk mengekspresikan apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan, apapun alasan yang mendasari. Dan itu termasuk saya sendiri. Juga mungkin orang-orang yang memiliki karakter yang setipe.

Saya sendiri, tiap harinya ada banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiran. Unek-unek, rasa senang, rasa marah karena kesal akan suatu hal, ketidakpuasan dan hal-hal lainnya. Semua itu bercampur baur menjadi satu. Jika hari itu banyak hal-hal yang menyenangkan, mungkin isi kepala akan terasa lebih ringan. Namun tidak jarang, terjadi pula tumpukan rasa marah, kecewa, kesal dan emosi-emosi negatif lainnya. Terutama di saat itulah kebutuhan untuk menumpahkan apa yang ada di dalam kepala terasa begitu besar.

Sebagian orang mungkin lebih mudah dalam menangani hal itu. Ada orang yang dengan mudah menceritakan apa yang dia pikirkan kepada orang lain. Mungkin menceritakan tentang kekesalannya akan suatu hal ke teman, menceritakan tentang hal-hal yang membuatnya senang, atau hal-hal lainnya.

Namun saya tidak bisa seperti itu. Saya tidak bisa dengan mudah bercerita ke orang lain. Hanya kepada orang-orang yang benar-benar dekat saya bisa bercerita. Itupun masih dengan catatan: terkadang tidak semua hal bisa diceritakan.

Dan saya yakin di luar sana ada orang-orang yang mempunyai karakter serupa.

Dengan karakter seperti itu, orang-orang seperti saya rentan terkena beban pikiran, terutama jika datang emosi-emosi negatif. Kalau kecewa, dipendam sendiri. Kalau marah, ditahan dan dipendam sendiri. Dan banyak lagi contoh lainnya.

Tentu sudah ada yang menasehatkan, “semuanya jangan dipendam sendiri, bagikan ke orang lain agar pikiran terasa lebih lapang”. Wah, seandainya bisa semudah itu. Tetap saja, meskipun sudah berupaya membuka diri, tidak semua hal bisa diceritakan.

Karenanya, orang-orang dengan karakter seperti saya seringkali memiliki dan membutuhkan media lain untuk menyalurkan segala macam gejolak isi pikiran. Ada yang menyalurkan isi kepalanya dengan melukis. Ada yang menyaurkan isi kepalanya dengan bermusik, atau aktifitas-aktifitas lainnya. Masing-masing orang memiliki kecenderungan tersendiri.

Saya sendiri memilih menyalurkan apa yang ada di dalam kepala dengan menulis. Saya merasa cocok dan memang menyukai cara ini. Dari dulu saya memang suka menulis.

Disini, saya ingin menuliskan hal yang terjadi tiap harinya, entah itu emosi positif maupun emosi negatif. Tujuannya tentu agar isi kepala terasa lebih ringan dan memiliki ruang. Terutama jika emosi negatif -marah, kecewa, atau hal lainnya- sedang datang, pikiran saya tidak akan terlalu terbebani. Agar tidak terlalu tertekan.

Kesimpulannya, saya menulis untuk diri saya sendiri, untuk menjaga kewarasan diri. Saya menulis agar suara-suara yang ada di dalam kepala bisa sedikit tersalurkan. Agar kewarasan saya terjaga.

Namun, jika memang ada yang ingin membagikan catatan-catatan yang ada disini, juga tidak masalah.

Seperti yang pernah saya tuliskan di catatan awal blog ini, jika apapun yang nantinya tertulis disini tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain, saya sudah bersyukur. Kalau ada yang merasa tersinggung, saya minta maaf. Inilah yang saya rasakan. Tentu, jika apapun yang tertulis disini bisa memberikan manfaat, sesedikit apapun itu, saya akan sangat gembira.