Pendapat Saya..

Saya menulis ini, semata-mata agar pikiran-pikiran yang menggelayut di kepala sedikit terurai, hingga tak begitu terasa memberatkan.

Masih terkait dunia kerja.

Sejauh ini saya sudah beberapa kali berkerja dalam beberapa bidang pekerjaan. Saya pernah bekerja beberapa tahun sebagai salah satu spesialist di sebuah startup unicorn, pernah bekerja di sebuah perusahaan IT yang bergerak dalam pembangunan aplikasi bagi pihak pemerintah ataupun swasta, pernah mengikuti pertukaran pemuda Indonesia – Jepang dan secara professional mengerjakan project pengerjaan web selama satu bulan lebih di Jepang (tema pertukaran pemuda: professional work), pernah bekerja dalam ranah voluntarism dan pernah pula terlibat dalam berbagai proyek baik yang bersifat profit maupun non profit.

Termasuk, saat ini saya juga bekerja di sebuah tempat yang tak perlu saya tuliskan. Setidaknya untuk sekarang.

Hal yang saya temui di berbagai lingkungan kerja pun bermacam-macam mulai sifat hingga karakter manusianya, budaya dan ritme kerja dan lain sebagainya. Ada yang memperbolehkan karyawannya datang siang namun jam kerja tetap menyesuaikan dan pekerjaan harus beres. Ada yang harus berangkat pukul 07.00 pagi sesuai aturan. Dan beragam perbedaan budaya dan ritme kerja. Masing-masing memiliki ciri dan cara kerjanya masing-masing.

Namun dari semua perbedaan yang ada di masing-masing lingkungan kerja atau project, ada beberapa hal pula yang bisa saya tarik sebagai kesamaan. Salah satu diantaranya: setiap orang yang berkerja pada suatu perusahaan atau setiap orang yang terlibat dalam suatu project harus mengikuti peraturan dan cara main yang berjalan di perusahaan atau project tersebut.

Bagi yang yang tidak mengikuti aturan? Sudah ada skema tertentu yang digunakan untuk penindakan. Pada umumnya, semuanya sudah diatur dan disepakati di awal perjanjian kerja.

Sepanjang yang saya alami, tentu saja aturan-aturan yang berjalan dalam penerapannya tidak melulu harus kaku, meskipun beberapa tempat memang lumayan kaku. Namun biasanya yang saya temui selalu ada pemakluman-pemakluman atas kesalahan yang dilakukan.

Saya sendiri tentu juga bukannya tidak pernah melakukan kesalahan. Pernah. Salah satu yang paling saya ingat, saya pernah sekali salah dalam melakukan prosedur penanganan kasus, yang berakibat hilangnya uang seseorang (meskipun jumlahnya hanya sedikit). Namun kesalahan tentu saja merupakan kesalahan. Perusahaan harus tetap mengganti kerugian yang saya timbulkan.

Atas kesalahan tersebut, saya diminta oleh atasan untuk menjelaskan kronologi kejadian, alasan-alasan mengapa saya sebagai seorang spesialist mengambil langkah tersebut dan tidak mengikuti standar yang berlaku. Tentu saya juga diminta menjelaskan hal-hal lain yang berkaitan dengan kesalahan yang saya lakukan.

Singkat cerita, setelah menjelaskan hal-hal diatas, saya diberikan pemakluman atas kesalahan yang terjadi. Namun saya sadar, kesalahan tetaplah merupakan kesalahan. Perusahaan tetaplah harus mengganti kerugian seberapapun kecilnya. Dan pemakluman yang diberikan juga bukan sekedar pemakluman, harus disertai penjelasan latar belakang, alasan mengapa terjadi dan lain sebagainya.

Disini perlu dicatat, pemakluman yang diberikan bukan sekedar pemakluman, harus disertai penjelasan latar belakang, alasan mengapa terjadi dan lain sebagainya.

Karenanya, saya begitu heran ketika melihat sebuah perusahaan melakukan pemakluman dengan sangat-sangat loyal atas kesalahan yang (bagi saya) sudah begitu parah.

Begini, saya memahami bahwa definisi parah pun berbeda-beda bagi setiap orang. Namun kalau saya ceritakan seperti ini : karyawan ini sangat sering datang terlambat. Jam masuk kerja pukul 07.00 WIB, ia bisa datang bisa pukul 09.00 WIB atau sering pula lebih. Itu belum waktu yang terkadang ia gunakan untuk tidur di unit lain.

Berbicara mengenai pekerjaan, tugas utamanya pun banyak tertunda dan tidak dikerjakan. Ketika ditanya mengapa tertunda, ia mengatakan banyak melakukan tugas A. Padahal tugas A saat ini banyak dilakukan oleh anggota tim yang lain. Ia bisa dibilang sangat jarang mengerjakan tugas A.

Pihak manajemen sebenarnya telah memberikan banyak sekali kelonggaran. Jam kerjanya yang semula pukul 07.00 WIB telah dilonggarkan menjadi pukul 09.00 WIB. Namun tetap saja, ia sering datang pukul 09.30 WIB atau bahkan pukul 10.00 WIB lebih. Pekerjaan utamanya juga tetap sering tertunda bahkan ada yan terlupakan. Alasannya pun sama: sedang banyak melakukan tugas A.

Bagaimana menurut kalian? Bagi saya: parah. Sangat parah.

Apa gunanya Kepala Ruang atau bagian SDM? Kepala Ruang sudah melakukan tugas dan fungsinya. Kebetulan, sayalah saat ini yang diminta menjadi Kepala Ruang. Saya sudah mengingatkan dan menegur baik secara langsung maupun tidak langsung sejauh kewenangan yang saya miliki. SDM pun sepertinya seperti itu. Bahkan Direktur saya yakin telah tahu mengenai hal ini.

Tapi masih belum ada perubahan.

Sejujurnya, karena masalah ini, saya merasa bahwa saya adalah seorang Kepala Ruang yang gagal. Gagal menertibkan, gagal mengawasi, gagal mengontrol, gagal memberi contoh, dan sederet kegagalan-kegagalan yang lain. Intinya, saya merasa gagal. Karenanya, saya meminta pula ke Manajemen agar mengganti Kepala Ruang. Jangan saya. Saya tidak ingin unit yang saya tempati menjadi tolak ukur dari contoh yang tidak baik unit-unit lain. Tapi, sampai sekarang belum ada pula pergantian Kepala Ruang.

Tentunya saya juga menyadari, kegagalan yang terjadi bukan semata kegagalan saya. Sebagai Kepala Ruang, saya merasa telah melakukan hal yang diperlukan sejauh wewenang yang saya miliki. Selanjutnya, itu adalah tugas dari manajemen untuk mengambil keputusan.

Saya tidak tahu pertimbangan apa saja yang digunakan pihak Manajemen dalam mengambil kebijakan mengenai hal ini. Kalaupun tahu, hanya sedikit, tidak semuanya. Dan saya tidak ingin membicarakan itu. Atas apapun alasan yang ada, biarlah pihak manajemen yang mengetahui.

Well, saya mencintai tempat ini baik hubungan secara personal maupun professional. Saya merasa memiliki hubungan personal dengan tempat ini. Saya ingin tempat ini pun bisa semakin maju, bisa semakin baik kedepannya.

Niatan yang tulus. Tanpa ada embel-embel apapun. Bahkan saat memutuskan untuk bergabung dengan tempat ini, dari awal saya tidak mengetahui berapa gaji yang akan saya diterima. Berapapun gaji yang akan saya terima, saya tidak akan mempermasalahkan.

Dan sebenarnyalah, kalau mau membandingkan, gaji saya terdahulu berkali lipat dibandingkan gaji yang sekarang.

Namun dengan situasi yang seperti ini, semangat bekerja saya disini juga semakin menurun. Saya tetap dan akan selalu mencintai tempat ini, namun saya tidak bisa membohongi diri bahwa semangat kerja saya melemah.

Sekali lagi, bukan masalah uang. Saya sudah mencari tahu mengapa. Alasan yang saya temukan, saya merasa kurang nyaman dengan lingkungan kerja yang menurut saya tidak sehat.

Parahnya lagi, beberapa kawan juga merasakan ketidaknyamanan tersebut. Adanya perlakuan yang berbeda, seperti ada anak emas, yang membuat suasana kerja tidak sehat. Dan berpengaruh pula dalam kedisplinan teman-teman pula. Katanya, “Lha ini saja telat parah dll saja tidak diapa-apakan kok.”

Mungkinkah saya iri? Bisa jadi. Apakah teman-teman iri? Bisa jadi. Orang lain boleh menyebutnya iri, namun bisa saya sampaikan pula, ini berada jauh diatas rasa iri. Apa salahnya menuntut hak yang sama? Sama-sama pegawai kan?

Atas ketidaknyamanan yang saya rasakan, saya pernah berpikir, mungkin saya bukan orang yang tepat untuk bekerja disini. Mungkin tempat ini membutuhkan orang yang lebih kuat dan lebih bertenggangrasa dalam mentolerir hal-hal yang terjadi.

Karenanya, pada suatu waktu saya pernah meminta direktur untuk membebastugaskan saya dengan alasan apapun. Kepala bagian SDM pun sudah mengetahui permintaan saya tersebut. Saya berpikir untuk kembali ke Jakarta. Lebih dari delapan tahun saya tinggal dan mengenal Jakarta. Cepat atau lambat, saya yakin saya akan menemukan penghidupan disana.

Sebenarnya, sejauh saya bekerja, baru kali ini saya meminta secara sukarela untuk dibebastugaskan dari pekerjaan. Dulu ketika masih di startup unicorn, saya sebenarnya juga tidak memperpanjang kontrak. Namun saya memilih untuk tidak memperpanjang kontrak kerja karena dihadapkan dua pilihan: memilih untuk tetap bekerja atau mengikuti program pertukaran pemuda ke Jepang dan menyelesaikan studi. Dan saya memilih untuk mengikuti program pertukaran pemuda ke Jepang dan menyelesaikan studi.

Baru kali ini saya minta dibebastugaskan.

Mau bagaimana lagi? Saya tidak bisa memaksakan jiwa saya terus menerus tertekan dan terganggu dalam lingkungan yang menurut yang tidak sehat. Ini sama sekali bukan masalah uang.

Saat ini, baik Direktur maupun Kepala Bagian SDM belum berkenan membebastugaskan saya. Mungkin berpikir, mengapa orang ini tiba-tiba meminta dibebastugaskan. Atau mungkin pula belum menemukan alasan yang tepat. Well, membebastugaskan seseorang tentunya juga memerlukan alasan.

Karena itulah, meskipun semangat semakin menurun, saya tetap berupaya maksimal menjalankan tugas yang ada. Tugas yang masuk saya kerjakan semaksimal mungkin. Saya selesaikan setiap aduan yang masuk baik secara langsung maupun melalui telepon. Tanpa banyak bicara. Jika tidak mampu, saya akan meminta bantuan kawan yang mampu. Bagaimanapun caranya, saya berupaya agar tugas yang datang bisa selesai.

Saya tetap menghormati kontrak kerja yang telah disepakati. Karenanya sampai nanti kontrak habis dan selama saya masih dibutuhkan, saya akan terus berkontribusi semaksimal yang saya mampu. Setelahnya, hanya Tuhan yang tahu. Bisa jadi, saja tidak diperpanjang lagi bekerja disini. Atau bisa jadi pula, saya lah yang tidak memperpanjang kontrak kerja disini. Hanya Tuhan yang tahu.