Kebahagiaan dan Kesedihan

Ada banyak hal membahagiakan di tiga hari terakhir ini.

Pulang ke Jaken bersama Ainia dan Satya. Ketemu Bapak, Ibuk, Dik Na, Mas Hisyam. Hanya kurang Dik Sofa saja. Melihat dan merasakan kondisi rumah yang familiar sejak kecil, merasakan angin yang bertiup kencang di siang hari yang panas, juga melihat kucing dan ayam berlarian tanpa menyerah mencari makanan.

Semua itu terasa membahagiakan. Namun masih ada lagi yang paling membuat bahagia. Yang paling membahagiakan diantara itu semua adalah ketika melihat Ibuk dan Bapak melihat Satya, melihat cucu laki-laki mereka.

Dari awal Bapak langsung meminta Satya untuk digendong. Wajar, mengingat Bapak memang sangat jarang bertemu. Yang awalnya Satya masih agak menolak, hingga akhirnya Satya anteng dan menerima saja saat di ajak jalan-jalan melihat ayam dan kucing. Juga ketika di ajak naik motor.

Sebuah kondisi yang sama-sama menguntungkan. Bapak senang dan sepertinya bahagia saat menggendong Satya. Saya dan (mungkin) Ainia pun bahagia karena bisa lebih punya banyak waktu untuk bersantai.

Ibuk, karena keadaan, memang belum berkesempatan menggendong Satya. Namun saya yakin Ibuk juga senang bisa melihat cucunya ini. Beliau sering ngeliling. Dan saat melakukannya, wajah beliau tersenyum senang.

Yang saya rasa agak mengherankan adalah ketika Satya dari awal langsung mau diajak Mas Hisyam tanpa penolakan, dimana biasanya Satya akan menolak terlebih dahulu jika diajak orang baru. Merasa agak lucu ketika Satya yang awalnya melihat penuh curiga kepada Dik Na, namun di hari ketiga akhirnya dia mau digendong dan bahkan sampai mau diajak becanda sampai tertawa terbahak-bahak.

Syukurlah.

Namun Tuhan memang menciptakan sesutunya secara berpasang-pasangan. Ada kehidupan, ada juga kematian. Ada siang, ada juga malam. Ada kebahagiaan, ada juga kesedihan.

Dan kesedihan ini masuk pula sebagai pelengkap kebahagiaan tiga hari ini. Saya melakukan kesalahan.

Istri saya, Ainia, suka berjualan. Baik berjualan produk pribadi, atau membantu memasarkan produk temannya. Menjual jilbab, madu, dan produk-produk lain. Ada yang membeli secara langsung. Banyak juga pembeli yang datang dari toko online. Dan bagi pembeli yang melalui toko online, oleh Ainia saya biasanya ditugaskan untuk mengirimkan paket ke ekspedisi pengiriman.

Biasanya aman-aman saja. Mengirim madu, aman. Mengirim jilbab, aman. Mengirim lainnya, juga aman.

Baru malam ini saya mengalami yang tidak aman. Paket-paket jilbab yang seharusnya saya antarkan ke ekspedisi pengiriman hilang di jalan.

Kok bisa? Ya saya juga tidak menyangka. Saya mengantar memakai tas yang biasanya. Saya tempatkan di tempat yang biasanya. Dan biasanya aman.

Dugaan saya adalah paket tersebut jatuh, mungkin diterbangkan oleh angin, dan saya tidak sadar kalau paketnya sudah hilang. Benar-benar tidak sadar.

Ketika saya menyadari kalau barang yang saya bawa hilang, tentu saya langsung putar balik mencari dan menelusuri. Namun hasilnya nihil. Mungkin telah diambil, ditemukan dan dibawa orang.

Saat pulang ke rumah, saya langsung meminta maaf ke Ainia. Saya meminta maaf, mengakui kesalahan. Bahwa saya telah menghilangkan paketan barang customernya dia.

Dia tidak marah. Tidak pula menyalahkan. Bahkan mungkin karena melihat saya panik, dia mencoba menenangkan. “Tidak apa-apa. Sedang apes kita saja, biasanya juga ngga pernah kejadian,” katanya.

Tapi bagaimanapun juga ada rasa bersalah dan rasa sedih yang saya rasakan. Merasa sedih ketika bertanya jumlah nominal dari semua barang yang hilang jumlahnya lumayan. Karena itu juga dana yang akan diputarkan kembali oleh Ainia.

Merasa bersalah karena bagaimanapun juga saya yang membawa barangnya ke ekspedisi pengiriman. Kok bisa jatuh? Kalaupun jatuh, kok saya tidak sadar dan tidak merasakan? Padahal saya tidak merasa mengantuk ataupun melamun ketika membawa kendaraan.

Tapi pada akhirnya yang bisa saya lakukan adalah menerima apa yang terjadi. Memang sudah seperti itu jalan takdirnya. Yang bisa saya lakukan adalah bagaimana agar kedepannya tidak terjadi lagi kesalahan yang sama.