Balas Dendam Terbaik

Beberapa waktu terakhir ini saya sering tertekan terkait masalah pekerjaan.

Bukan karena lingkup pekerjaan yang harus saya kerjakan sangat-sangat berat. Bukan. Memang ada beberapa pekerjaan yang sifatnya hal baru bagi saya. Namun untuk jenis pekerjaan yang seperti itu saya bisa belajar dan bertanya kepada orang yang saya rasa lebih paham.

Tekanan batin yang saya rasakan diantaranya dikarenakan sistem kerja yang menurut saya agak ruwet; minimnya operan dan limpahan pengetahuan terkait lingkup kerja saya yang baru, alur komunikasi antar unit, dan hal-hal lainnya terkait birokrasi di tempat kerja.

Namun untuk hal-hal terkait birokrasi, sebenarnya saya tidak terlalu tertekan. Terkait ini, prinsip saya adalah mengalir mengikuti ritme yang ada. Dan kalau ada kesempatan, menyuarakan yang ada di kepala. Kalau di dengar dan bisa dijalankan, syukurlah. Kalau tidak, ikuti saja alur yang ada.

Yang saya rasa paling membuat tertekan adalah saya melihat berdasarkan data akan adanya perlakuan berbeda antar karyawan. Atau sebutlah, pengistimewaan beberapa karyawan. Tidak, saya tidak di dzolimi oleh perusahaan. Hanya saja, melihat perlakuan yang berbeda kepada karyawan yang jelas menyalahi peraturan membuat saya merasa tidak cocok. Ya, menyalahi peraturan perusahaan yang seharusnya dijunjung dan ditegakkan.

Tekanan yang saya rasakan terkait ini cukup besar, bahkan seringkali di rumah pun masih terbawa dan terpikirkan. Setiap kali pulang kerja, seringkali saya merasa tubuh saya sangat lelah meskipun saat itu tidak banyak pekerjaan fisik yang harus saya lakukan. Ya, awalnya lelah secara psikis. Dan dari psikis berlanjut memengaruhi fisik.

Saya pernah menuliskan salah satu pengistimewaan karyawan disini. Di catatan itu, saya menceritakan betapa perusahaan sangat menolerir pelanggaran yang terjadi. Entah apa yang ada di kepala karyawan itu. Mungkinkah ia berpikir bahwa perusahaan sangat membutuhkan dia sehingga dia bisa bersikap seenaknya? Saya tidak tahu. Apakah ia berpikir bahwa kesalahan yang ia lakukan bahkan setelah diberikan kelonggaran adalah hal yang biasa saja? Saya tidak tahu. Atau apakah ia merasa dekat dengan manajemen sehingga ia yakin hal yang ia lakukan akan dibiarkan saja? Saya juga tidak tahu. Saya tidak tahu alasan-alasannya.

Lagipula segala keputusan di pegang oleh manajemen. Manajemen memegang data dan bisa menarik kesimpulan dari sana. Jadi, jika manajemen tidak mempermasalahkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi, ya artinya mungkin manajemen memang tidak mempermasalahkan itu. Kalau manajemen tidak mempermasalahkan, seharusnya saya cukup diam saja dan tidak perlu repot-repot mempermasalahkannya juga. Cukup diam dan jalani.

Sayangnya saya tidak bisa seperti itu. Batin saya tetap merasa tidak nyaman dengan itu.

Atas ketidakadilan perlakuan yang saya lihat, dan tidak dijunjungnya peraturan, saya sendiri mencoba melakukan yang saya mampu untuk mengubah. Setidaknya, sejauh kuasa yang saya miliki. Namun sejauh ini tidak banyak yang berubah sehingga lama kelamaan membuat saya merasa tidak nyaman dan pada akhirnya beberapa waktu yang lalu memutuskan untuk mengajukan resign ke perusahaan.

Mungkin orang akan berpikir, “gila saja kamu resign di saat pandemi, di saat banyak orang kehilangan pekerjaan“. Pendapat itu ada benarnya, terlebih saat ini saya sudah berkeluarga, memiliki istri dan juga anak.

Namun keputusan untuk resign saya rasa adalah hal yang tepat. Saya tidak bisa terus menerus mengingkari hati nurani. Saya merasa kasihan kepada perusahaan, juga merasa bersalah kepada pemilik perusahaan ini. Saya berpikir, bagaimana perusahaan bisa maju dengan pesat jika sistem seperti ini terus berjalan?

Jika saya mau, sebenarnya bisa saja jika saya menyuarakan hal itu secara terang-terangan. Saya yakin, jika mau, saya memiliki sedikit kesempatan agar suara saya bisa di dengar, bahkan oleh pemilik perusahaan. Namun untuk apa saya memantik api?

Karena itulah, saya pikir resign adalah keputusan terbaik. Saya tidak berminat memantik api. Lagipula, bisa jadi yang kurang nyaman dengan sistem yang berjalan hanya saya sendiri. Maka mengajukan resign adalah pilihan yang saya ambil.

Dengan resign, saya akan terlepas dari sistem, sehingga saya tidak perlu lagi merasa jengah dan bersalah. Dengan resign, saya akan membuat nurani saya lebih damai. Terkait masalah kebutuhan keluarga, saya yakin dengan bekal kemampuan yang diberikan Tuhan, akan ada jalan rezeki lain yang terbuka untuk mencukupi kebutuhan.

Mungkin akan ada yang berpikiran, “Gitu saja resign, berarti kamu belum memahami sepenuhnya kehidupan yang sebenarnya“. Atau mungkin ada juga yang bilang, “Cemen. Ada masalah seperti itu saja langsung mengajukan resign. Kalau ada yang menurutmu tidak benar, ya harusnya dibuat agar benar, tidak ditinggal pergi”.

Well, saya sudah bersuara dan berupaya mengenai hal itu. Jadi, saya merasa bodo amat kalau memang ada pendapat-pendapat seperti diatas.

Masalahnya disini, sampai saat ini pengajuan resign saya belum juga dikabulkan oleh manajemen. Artinya, sampai saat ini saya masih terlibat dalam sistem. Saya masih terus menyaksikan hal-hal yang menurut saya tidak seharusnya dilakukan. Saya masih terbebani secara mental.

Dan bodohnya, mungkin saking jengahnya dengan keadaan yang terjadi, saya berpikiran, kalau pelanggaran-pelanggaran seperti itu tidak dipermasalahkan, artinya saya tidak akan dipermasalahkan juga dong misalkan saya melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya lebih ringan.

Sebuah pemikiran bodoh. Dan bodohnya lagi, saya terjatuh dalam pemikiran itu. Dari yang merasa tidak nyaman karena melihat pelanggaran-pelanggaran yang dibiarkan saja oleh manajemen, saya menjadi merasa berhak melakukan hal yang sama dan turut menjadi pelanggar peraturan itu sendiri.

Saya turut terjatuh dalam kubangan lumpur yang saya benci. Saya turut melakukan hal-hal yang awalnya saya benci. Saya yang awalnya selalu datang tepat waktu, kini tercatat beberapa kali datang terlambat. Sepuluh menit terlambat, tiga belas menit terlambat, lima belas menit terlambat. Saya tahu dan sadar kalau itu salah, tapi saya beberapa kali melakukannya. Saya juga merasa kalau motivasi dan kinerja saya menurun.

Hingga akhirnya hari ini saya merasa di sentil oleh buku yang saya baca. Dalam salah satu kalimat buku itu terdapat pesan, “apa bedanya kamu dengan orang yang kamu benci jika kamu melakukan hal yang sama?”

Dalam konteks saya ini saya seperti di dingatkan, “bagaimana bisa kamu bilang membenci suatu hal sedangkan kamu sendiri melakukannya?”

Ya, saya melakukan kesalahan. Saya sendiri sekarang malah melakukan hal-hal yang semula saya benci. Saya ikut melanggar peraturan. Dari yang awalnya membenci apa yang dilakukan si pelanggar peraturan, saat ini saya malah menjadi pelaku juga. Saya bukannya memperbaiki keadaan, bahkan malah memperburuknya disaat seharusnya saya memberikan contoh yang baik kepada yang lainnya. Saya melalaikan kewajiban.

Buku itu menambahkan kutipan dari Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi,

“The best revenge is to be unlike him who performed the injury. Balas dendam terbaik adalah untuk tidak menjadi seperti orang yang memberikanmu luka.”

Dalam kasus saya ini, balas dendam terbaik atas ketidanyamanan batin yang saya alami atas perbedaan perlakuan manajemen atas pelanggar peraturan adalah dengan tidak menjadi seorang pelanggar peraturan itu sendiri.

Kalau kamu tidak suka melihat orang datang telat, kamu jangan jadi orang yang datang telat. Kalau kamu tidak suka melihat orang yang tidur di saat jam kerja, kamu sendiri jangan sampai tidur di jam kerja. Kalau kamu tidak suka melihat orang menunda dan menyepelekan pekerjaan, jangan sampai kamu sendiri menjadi orang yang suka menunda dan menyepelekan pekerjaan.

Atas yang terjadi sebelumnya bagaimana? Pelanggaran yang dibiarkan? Pengistimewaan? Kalau yang lain boleh seperti itu, boleh juga dong kalau kita melakukan hal yang sama?

Hop. Berhenti. Kalau masih saja berpikiran seperti itu, langsung ingat-ingat pesan Marcus Aurelius diatas. Kesalahan tetap kesalahan. Jangan turut menjadi orang yang melakukan hal yang sama salahnya. Terkait respon manajemen atas pelanggaran yang terjadi, biarlah itu menjadi keputusan manajemen. Biarkan saja itu menjadi hak dan pertimbangan manajemen.

Seperti itu.

Well, sampai saat ini saya tidak mencabut surat permintaan resign yang saya kirimkan. Sampai saat ini saya masih merasa itulah keputusan yang terbaik. Namun, di sisa masa pengabdian ini (bisa jadi besok manajemen akan membebastugaskan saya), saya berjanji akan terus mengevaluasi diri dan kembali mengusahakan yang terbaik.